Tuah “Paraban Tuah”

Elok dengan berbagai pengalamannya sebagai perempuan Madura mengajak kembali untuk melihat apa yang telah menjadi kebiasaan di tengah masyarakat. Tidak lantas menelan bulat-bulat atau melakukan apa yang sudah biasa dilakukan. Tapi, kebiasan seperti apa yang harus diyakini untuk diteruskan dan kebiasaan apa yang harus dikritisi untuk dihentikan, itu yang menjadi titik beratnya.

Buku “paraban tuah” memang mengangkat perempuan sebagai isu yang menarik. Dalam buku ini, perempuan memiliki andil besar dalam kehidupan, namun tidak memiliki banyak kesempatan untuk mengembangkan dirinya. Bahkan lebih parahnya, perempuan tidak memiliki hak untuk tubuhnya sendiri. Perempuan hidup sebagai objek yang dapat diperlakukan seenaknya, itulah perempuan baik yang telah dipersepsikan.

Cerita dibuka dengan perempuan yang telah diisukan membuang bayinya ke sungai oleh orang-orang sekitar. Sebagaimana kehidupan di kampung, isu menjadi realitas sosial yang akan dipercaya meski tanpa bukti yang konkret. Isu itu akan terus berkembang bagai bola salju yang terus menggelinding melibas realitas. Realitas di balik hembusan isu tidak pernah muncul menjadi  penyeimbang terhadap kencangnya isu tersebut. Bahkan, penyebar isu sendiri tidak lebih penting dari isu yang disampaikan, sehingga penyebar isu lepas dari tanggung jawab untuk  menyampaikan bukti terhadap apa yang disampaikan. Apakah isu itu benar atau fitnah? segera baca sendiri bukunya.

Perempuan yang diisukan itu seperti halnya perempuan pada cerita lain dalam buku tersebut, tidak menjadi perempuan utuh, kehidupannya dibelenggu oleh berbagai persepsi masyarakat seperti kutipan “Buat apa sekolah tinggi-tinggi, nanti ngurus rumah tangga saja yang benar, ngurus suami, ngurus anak. Tidak usah mikir aneh-aneh, jangan seperti ibumu, kerja keluar terus, rumah gak keurus.”

Persepsi tersebut menghilangkan hak perempuan untuk berkembang pada aspek pendidikan, emosional, serta aspek ekonomi. Mengurus diri sendiri saja butuh waktu, tenaga, energi, serta materi, apalagi mengurus keluarga, suami, dan anak.

Perempuan, sebagaimana manusia lainnya memiliki hak dan kewajiban berkembang dalam aspek pendidikan. Menempuh pendidikan tidak harus di sekolah, bisa di pesantren, di komunitas-komunitas, di perkumpulan, atau apapun itu istilahnya. Pendidikan menjadi dasar perempuan sebagai manusia untuk menjalani hidupnya, perempuan memiliki hak untuk mengetahui setiap keniscayaan yang melekat pada dirinya. Perempuan yang memiliki kesempatan untuk memperoleh pengetahuan lebih panjang, memiliki peluang lebih besar untuk memperlakukan dirinya dengan baik. Tahu memperlakukan dirinya sesuai fungsi dan peran tubuhnya yang tidak mudah dipahami oleh orang lain itu. Sehingga, pemahaman yang diperoleh dapat direalisasikan untuk dirinya dan untuk anak-anaknya kelak.

Secara emosional, perempuan juga butuh berkembang seperti halnya laki-laki. Sehingga, butuh waktu yang tidak sebentar bagi seorang perempuan untuk memahami dirinya sendiri sebagai dasar untuk memahami orang lain. Sama halnya dengan anak kecil yang butuh banyak belajar, menjadi orang tua juga butuh lebih banyak belajar. Oleh sebab itu, perempuan berhak untuk memiliki waktu yang cukup untuk melatih emosionalnya dengan bertemu dirinya sendiri dan orang lain sebanyak dan sebaik mungkin.

Perempuan juga memiliki hak untuk mandiri secara ekonomi. Perempuan berhak bekerja di luar rumah untuk memenuhi kebutuhannya serta membantu perekonomian keluarga, begitu juga perempuan memiliki hak untuk bekerja di rumah saja. Hak itu tidak bisa diintervensi oleh siapapun.

Perempuan memiliki alat reproduksi secara fisik yang perlu diperlakukan berbeda, itu saja. Selain dari itu, perempuan memiliki hak dan kewajiban yang sama sebagai manusia merdeka. Keluarga bisa diurus dengan konsep kesalingan dengan pasangan. Bersama mengurus, berbagi tugas, saling bantu untuk berkembang bersama.

Seharusnya, peristiwa ketidakharmonisan dalam keluarga (relasi orang tua-anak atau relasi suami-istri), pengkhianatan terhadap pasangan, gangguan jiwa, bahkan pembunuhan yang diceritakan oleh Elok dalam buku ini dapat dihindari apabila perempuan dan laki-laki memiliki waktu dan ruang yang sama untuk berkembang sesuai dengan posisi masing-masing, tidak ada yang mengungguli satu sama lain. Sehingga, komunikasi berjalan melalui kebersalingan, saling menyampaikan, saling mengingatkan karena manusia memang akan semakin dekat dengan kealpaan.

Buku               : Paraban Tuah

Penulis             : Elok Teja Suminar

Cetakan           : Pertama Maret 2021

Penerbit           : Basabasi

Halaman          : vi+122 halaman; 12x19cm

ISBN               : 978-623-305-201-6

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *