Kita Tidak Memiliki Tuhan, Kita Dimiliki Tuhan

Membaca novel “Layla, Setribu Malam Tanpamu” sama halnya bertatap muka dan berbincang-bincang dengan penulis langsung. Candra Malik adalah sufi yang membumi.

Ajaran tasawuf terlihat eksklusif dan hanya sebagian kecil orang yang mempelajari karena dianggap berat dan bersifat langit (sulit dijangkau pikiran). Namun, bagi Candra Malik beda lagi. Pelaku sufi kelahiran Solo ini membumikan tasawuf dalam kehidupan sehari-hari. Disajikan dalam kisah percintaan, hubungan keluarga, dan pertemanan. Tasawuf tidak lagi hanya dimiliki oleh Mursyid dan murid. Tetapi, bisa diresapi dan dipraktikkan oleh banyak orang.

Judul setiap bab dalam novel ini diambil dari beberapa tokoh panutan dalam bidangnya masing-masing yang sikap dan prilakunya bermuara pada kesejatian. Diantaranya, Umbu Landu Paranggi yang bergelar presiden Malioboro dan menjadi guru dari banyak sastrawan luar biasa seperti Emha Ainun Nadjib. Ada Lora Lilur yang merupakan cicit dari Syaikh Kholil Bangkalan.

Wallaili Wannahar, tokoh utama saat usianya masih remaja (17 tahun) sudah mempelajari ilmu tasawuf. Rezeki tidak bisa dipaksakan untuk datang dan tidak pula bisa ditolak. Rezeki akan datang kepada orang yang tepat dan pada waktu yang tepat pula. Begitu juga ilmu tasawuf yang didapat oleh Lail (panggilan Wallaili Wannahar). Lail yang baru pertama bertemu dengan Abah Suradira langsung diminta untuk datang ke rumahnya dan mendapat siraman ilmu tasawuf. Padahal, masih banyak orang lain yang sudah lama menjadi murid Abah Suradira dan tidak mendapat siraman seperti Lail.

Abah Suradira mengajak Lail untuk bersila dengan lutut saling bersentuhan. Apa yang diucapkan oleh Abah Suradira harus diulang oleh Lail dengan pas tanpa mengurangi dan menambahi. Pengurangan atau penambahan akan berdampak besar terhadap kebenaran dari yang diajarkan.

“Sebalum ada apa-apa, sebelum apa-apa ada, sebelum ada itu ada, ada Allah,” ucap Abah Suradira yang diikuti oleh Lail. Abah Suradira mencoba bertanya kepada Lail untuk membuktikan ilmunya diserap dengan benar atau belum dengan bertanya, “Sebelum ada apa-apa, sebelum apa-apa ada, sebelum ada itu ada, apakah sudah ada Allah, Le? Lail menjawab dengan tegas “Sebelum ada apa-apa, sebelum apa-apa ada, sebelum ada itu ada, sudah ada Allah, Bah. Hati-hati, Le. Hati-hati. Jangan sampai terjebak syirik. Hati-hati. Hal 13

Jangan kamu tambah-tambahi atau kurang-kurangi pembacaannya. Tidak ada kata ‘sudah’ di dalam pelajaran tadi. Lagi pula, Allah itu Ada, bukan sudah ada!” kata Abah Sudira, kali ini dengan nada tinggi. “Huwa al Awwalu, Dia Maha Awal. Dia Awal dari segala awal. Tidak ada yang ada sebelum-Nya. Tidak ada yang ada selain Allah Yang Maha Ada. Camkan!” sambungnya. Hal 14. Syirik bisa saja terjadi di manapun dan kapanpun tanpa disadari. Lail begitu terguncang saat menyadari kesalahannya. Menambah kata ‘sudah’ berarti menyatakan bahwa Allah sebelumnya tidak ada. Meniadakan Allah berarti syirik. Padahal, Allah ada sebelum apa-apa ada, sebelum ada apa-apa, dan sebelum ada itu ada.

Dalam ajaran tasawuf, kita (manusia) tidak memiliki Tuhan. Tapi, dimiliki oleh Tuhan. Jadi, saat ada pertanyaan “apakah kita memiliki Tuhan?” kita rasa-rasanya akan lantang menjawab “Iya”. Padahal, Tuhan melampaui segala di semesta ini. Terhadap diri sendiri manusia tidak memiliki hak sedikitpun, apalagi terhadap luar diri. Manusia hanya memiliki kewajiban untuk mengabdi.

Bayangan Lail melesat pada peristiwa saat Nabi Muhammad Saw. menerima wahyu pertama kali, tanpa menulis dan tanpa alat tulis. Malaikat Jibril membacakan dan Nabi Muhammad membaca ulang, sama seperti yang Lail alami. Lail menggigil ketakutan, gelisah, dan merasakan semua hal yang tidak dibayangkan sebelumnya saat menerima ilmu dari Abah Suradira.

Lail hanya boleh bertanya dan dilarang mempertanyakan.“Boleh bertanya, Le, tapi jangan mempertanyakan,” pesannya, hal 16. Dalam ajaran tasawuf memang ada larangan untuk mempertanyakan kehendak Allah. Mempertanyakan berarti meragukan. Mempertanyakan merupakan cermin dari sikap ragu terhadap apa yang seharusnya kita jalani. Manusia wajib mengimani terhadap apapun yang sudah ditakdirkan Tuhan.

Lail anak kedua dari orang tua yang sudah memperkenalkan hal-hal yang mistik sejak Lail kecil. Merasa memiliki dua jiwa yang sudah tidak lengkap membuat Lail selalu bertanya-tanya. Orang tua maupun Abah Suradira tidak pernah mengungkit hal yang mengenai perasaan itu sampai Lail berkuliah di Malang. Sejak kecil Lail sudah akrab dengan Kinasih, anak tetangga yang diasuh oleh orang tuanya karena bapaknya meninggal dan ibunya pergi. Begitulah yang diketahui Lail, tidak lebih.

Orang tua Lail menginginkan Lail menikahi Kinasih. Tetapi, Lail pernah melihat Kinasih bergandengan tangan dengan laki-laki lain, membuat Lail memutuskan untuk tidak mengikuti keinginan orang tuanya, meskipun ada rasa cemburu yang entah datangnya dari mana.

Layla, perempuan yang dilihat Lail saat hendak pulang dari ngaji al-Hikam di kediaman Buya Munir. Lail merasa menemukan separuh jiwa yang telah lama hilang. Namun, Lail tidak berani menyapa, apalagi berkenalan. Perempuan itu dilihat lagi saat diminta Irsyad untuk mengisi materi di Surabaya dan setelah itu Layla hilang tanpa kabar.

Kehilangan Layla membuat kehidupan Lail berantakan, termasuk tidak semangat untuk meneruskan kuliah. Irsyad, sahabat terdekat Lail yang banyak menolong untuk memberikan semangat. Memberikan pinjaman mobil berkeliling Malang untuk melacak keberadaan Layla, menanggung biaya kuliah tiap akhir semester, diijinkan tinggal di rumahnya, serta mengetikkan skripsi.

Pelajaran Abah Suradira mengakar kuat dalam diri Lail. Di tengah goncangan batin karena kehilangan Layla, Lail memutuskan berkeliling untuk berguru kepada sastrawan Umbu Landu Paranggi di Bali dan tokoh sufi dari berbagai wilayah. Sowan kepada Lola Lilur di Bangkalan, bertemu dengan kakek Gelinggang (Harun Perwitodiharjo) penjaga petilasan Sunan Kali Jaga, serta belajar hal yang seharusnya setimbang dan seimbang dari Kiai Jakfar.

Selain belajar ilmu tasawuf langsung dari Abah Suradira, Lail menjadi pengikut berbagai aliran tarekat, diantaranya; mendapat baiat dari Syekh Hisyam al Kabbani Mursyid Tarekat Naqsabandiy kelahiran Lebanon dan tinggal di Amerika, Abah Anom (Ahmad Sohibul Wafa Tajul Arifin) pemimpin Tarekat Qadiriyah wa Nadsabandiyah, dan menjadi murid Kiai Ja’far Shodiq, Mursyid Tarekat Asy-Syathoriyah.

Berbagai guru spiritual disajikan penulis dalam menjalani kehidupan sebagai seorang sufi muda. Perjalanan panjang dalam mendalami ilmu tasawuf benar-benar diaplikasikan dengan satu kata, satu hati, satu perbuatan, dan satu sikap yang teguh dalam mencintai Muhammad Saw. sebagai jalan untuk kembali kepada-Nya.

Lail percaya penuh terhadap apa yang didapat dari para guru yang pernah ditemui. Seperti yang dikatakan Abah Suradira, “Kita akan dikumpulkan dengan orang-orang yang kita cintai,”Hal 177. Diakhir cerita, silakan nikmati dengan membaca sendiri bukunya.

Judul              : Layla, Seribu Malam Tanpamu
Penulis           : Candra Malik
Penerbit         :  PT Bentang Pustaka
Edisi               : Pertama, April 2017
Hal                  : 262 Halaman
ISBN               : 978-602-291-383-2

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *