Memutar kenangan

Kereta mulai bergerak membawa badan-badan penumpang yang sudah duduk di kursi masing-masing, begitu pula saya. Tiga kuris di samping dan di depan saya kosong karena penumpangnya batal berangkat. Seperti itulah jalannya rejeki, tiket sudah dibeli tapi batal dimanfaatkan. Sepintas seolah hanya memberi uang pada pihak KAI.

Setiap kali naik kereta jalur utara (Pasarturi Surabaya) selepas stasiun Cepu-Randu Blatung-Kradean-Ngrombo, saya menemukan hal yang membuat diri ini tidak biasa. Ada ingatan yang muncul, ada motivasi yang timbul, serta kenangan akan kampung halaman. Entah mana yang lebih dahulu, saya tidak tahu. Yang pasti, arsitektur rumah-rumah daerah lepas dari stasiun Cepu-Randu Blatung-Kredean-Ngrombo memiliki kemiripan dengan arsitektur rumah Madura.

Saya sebenarnya tidak tahu, nama daerah tersebut. Saya hanya memberi tanda dari selepas stasiun Cepu-Randu Blatung-Kredean-Ngrombo. Namun, setiap melewati daerah tersebut saya selalu terjaga meski sebelumnya tertidur dengan pulas. Rasa-rasa seperti yang sudah saya sebutkan di atas seolah membangunkan saya untuk segera menikmati hamparan sawah luas, rumah-rumah yang mengingatkan saya saat menjalani masa nak-kanak. 

Semua serba alami. Bermandi hujan setiap musim hujan tanpa ada rasa khawatir untuk sakit. Bahkan, saya sebagai nak-kanak, saya oleh orang tua-tua di rumah disuruh untuk menikmati hujan. Benar-benar memposisikan hujan sebagi rahmat yang layak disyukuri kedatangannya. Tidak berhenti di situ, keseruan mandi hujan juga dimanfaatkan dengan pergi ke sawah untuk mengejar burung, mencari orong-orong di sela jerami yang menumpuk setelah musim panen padi sudah lewat.

Dari semua itu, yang paling seru adalah mengejar burung. Burung-burung yang juga sedang menikmati hujan bisa dikejar karena bulu ekor dan sayap-sayapnya sedang basah, sehingga kecepatan dan jarak tempuhnya mampu kita (nak-kanak) jangkau. Tidak setiap mengejar kita pasti dapat, tidak ada jaminan untuk itu. Justru lebih banyak tidak dapat daripada mendapatkan. Apalah arti tidak dapat burung bagi nak-kanak yang dalam pikirannya hanya keseruan, keseruan, dan keseruan. Pokoknya seru, pasti semua dilakukan.

Ingatan seperti itu yang menimbulkan motivasi saat melihat jejeran rumah selepas stasiun Cepu-Randu Blatung-Kredean-Ngrombo. Dari warna tanah, jalan-jalan yang masih didominasi tanah dan kerikil, posisi rumah yang berjauhan satu sama lain yang diapit oleh hamparan luas sawah-sawah dengan tanah gersang juga menjadi semakin mirip dengan suasana di kampung halaman Madura.

Masih banyak rumah yang terbuat dari kayu yang terlihat kuno, seperti sudah berusia puluhan tahun. Bahkan, tidak kalah banyak bangunan baru yang terbuat dari kayu dengan cat yang lebih modern. Meskipun, pasti sudah ada beberapa yang sudah bertembok bata. Melihat semua itu dari atas kereta api yang sedang berjalan membawa diri ini pelan menyusuri bantalan rel yang berbunyi, memiliki romansa tersendiri yang hanya bisa dirasakan oleh hati tanpa harus melibatkan ekspresi.

Ciri khas yang melekat selain bentuk rumah yang memang mirip, ada satu hal yang sama persis, yaitu bubungan. Bubungan yang hanya diletakkan begitu saja tanpa didasari semen masih terlihat banyak. Dulu, saya sendiri dibuat bertanya-tanya dalam hati meski tidak sampai dipertanyakan kepada orang lain. Sekuat apakah bubungan yang tanpa didasari oleh semen?

Lama pertanyaan itu mengendap dalam diri sampai suatu saat tetangga rumah memperbaiki kandang sapi. Tanpa ada yang mengeluarkan pertanyaan, tukang yang memasang bubungan itu menjamin bahwa kekuatan bubungan tanpa didasari semen itu tidak perlu dikhawatirkan. “Selama hanya angin dan hujan, bubung ini tidak akan bergerak,” ujarnya sambil terus memasang bubung-bubung, seolah menjawab pertanyaanku yang sudah lama dan mulai terlupakan.

Meskipun ada banyak kemiripan, ada satu hal yang saya amati perbedaan yang mencolok, yaitu keberadaan surau. Sepanjang penglihatan saya sejak dari stasiun Cepu-Randu Blatung-Kradean-Ngrombo tidak setiap rumah memiliki surau seperti di Madura. Bagi saya, surau memiliki ikatan batin tersendiri karena sejak kecil surau selalu menjadi tempat untuk rebahnya badan ini.

Cukup panjang wilayah yang dilewati lepas stasiun Cepu-Randu Blatung-Kredean-Ngrombo. Di stasiun Ngrombo, kereta agak lama berhenti. Penumpang-penumpang turun bagi yang sudah sampai dan naik bagi yang akan berangkat. Pikiran saya masih tidak lepas dari kenangan-kenangan yang terus berputar seperti film yang aktornya saya sendiri.

Kehidupan, selalu dimulai dengan naik saat berangkat dan diakhiri dengan turun saat sampai. Diantara berangkat dan sampai, ada kejadian-kejadian yang direkam dan akan berputar kapan saja saat ada hal yang merangsangnya. Begitulah kehidupan, semua serba otomatis yang oleh orang modern dikagumi saat otomatis terletak pada benda buatan, bukan yang melekat pada diri sendiri.

Kereta mulai berangkat lagi. Pegawai stasiun berdiri, meletakkan tangan di depan dada, lalu menundukkan kepala saat kereta mulai berjalan. Ini pertama saya lihat dan langsung saya alami sejak peraturan baru ini diterapkan.

Di atas kereta Surabaya-Semarang
27, Oktober 2018

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *