Ruang Kreativitas

Perkembangan zaman tidak terelakkan, siapa yang tidak mengikuti niscaya akan tertinggal. Hal itu menjadi hukum alam yang sudah berlaku sejak dulu. Namun, mengikuti perkembangan tanpa memegang teguh prinsip kebudayaan, maka perkembangannya entah mengarah ke mana. Semua aspek kehidupan memang dituntut untuk mengikuti perkembangan itu. Termasuk aspek kesenian. Aspek kreativitas berkesenian itu, Semarang sudah memulainya.

Saya sudah lama berkeinginan untuk pergi ke Semarang, tapi ada saja yang membuat tertunda-tunda. Saat mendengar informasi ada pementasan teater rakyat yang didukung oleh para seniman papan atas, saya langsung memutuskan untuk segera pesan tiket. Acara teater rakyat kali ini tidak tanggung-tanggung, siapa yang tidak kenal Agus Noor? Beliau yang menulis naskah sekaligus menjadi sutradara dalam acara yang diaktori langsung oleh Butet, Prie GS, Cak Lontong, Akbar, Marwoto, Susilo Nugroho, dan sederet nama-nama yang tidak asing lagi dalam dunia seni.

Pagelaran teater rakyat yang berjudul “Misteri Sang Pangeran” berjalan dengan meriah. Saya tidak akan membahas banyak terkait jalannya cerita karena pengalaman dari setiap pemain bagi saya sudah menjadi jaminan akan kualitas pementasan teater rakyat kali ini.

Teater rakyat sebenarnya sudah ada sejak lama sebelum adanya teater modern. Sekarang, perkembangan teater rakyat “agak” kurang diminati oleh generasi milenial karena banyak jenis hiburan yang menjadi pilihan. Teater modern sendiri masih eksis dalam dunia kesenian. Ada teater Koma di Jakarta yang diasuh oleh Nano Riantiarno dan setiap pementasannya selalu dipenuhi oleh penonton. Teater Gandrik Yogyakarta yang salah satu pendirinya adalah Susilo Nugroho, serta ada nama Butet Kartaredjasa yang aktif di dalamnya.

Generasi milenial dalam menikmati sebuah tontonan, cenderung menggemari komedi. Makanya, acara komedi-komedi di stasiun televisi semakin banyak peminatnya. Dalam teater rakyat pun, sebenarnya memiliki aspek komedi yang tinggi. Namun, komedi dalam teater rakyat tidak sesuai dengan komedi yang digemari oleh generasi milenial sekarang ini. Teater rakyat yang setia pada pakem untuk menyampaikan nilai-nilai kebaikan dalam setiap pementasannya, tidak lagi menjadi daya tarik bagi generasi milenial.

Dalam acara yang diadakan di Taman Indonesia Kaya ini memadukan keduanya. Susilo Nugroho, Marwoto, Butet, Prie GS, Cak Lontong, dan Akbar bisa memerankan dan menarik dua generasi sekaligus, yaitu generasi tua yang sudah akrab dengan teater rakyat dan generasi milenial yang suka dengan komedi yang dibawa Cak Lontong dan Akbar. Perpaduan keduanya bagi saya memberikan kesan hangat bagi kemajuan teater rakyat sendiri. Tetap berpegang pada prinsip serta memadukan dengan hal yang menjadi minat generasi penerus.

Kesuksesan acara tersebut bermula dari suksesnya pembangunan taman. Taman Indonesia Kaya yang baru diresmikan oleh Wali kota pada Oktober 2018 dan berada di tengah kota ini menjadi taman kreasi yang bagus bagi warga Semarang sebagai ruang publik untuk kesenian, khususnya teater. Pembangunan yang memiliki kepedulian terhadap kreativitas memang harus menjadi prioritas bagi pemerintah kota di Indonesia dan Semarang sudah memulainya. Sehingga, pembangunan tidak hanya menjadi sekedar ruang publik yang tidak memiliki misi yang jelas bagi perkembangan kreativitas generasi melenial.

Taman sebagai ruang publik yang sekarang menjadi cerminan sebuah kota hijau dan ada panggung kesenian di tengahnya akan menjadi sebuah kota yang berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat dan akan jauh dari bentrok yang disebabkan oleh benturan-benturan kelompok yang hanya sekedar perbedaan sudut pandang. Yakin!!!

Tidak ada yang lebih serius dari kehidupan seni, pun tidak ada yang santai melebihi dunia seni. Urusan imajinasi dipelajari dengan sungguh-sungguh, urusan ketegangan hidup ditertawakan dengan penuh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *