Perempuan; lemah atau dilemahkan?

Kelemahan perempuan dalam kehidupan, saya kira tidak murni sebuah kelemahan, namun ada pihak yang sengaja melemahkan. Salah satunya adalah dunia patriarkhi, laki-laki sebagai pusat segala aspek kehidupan. Patriarkhi sendiri sudah lama ada dan tumbuh subur, sejak zaman kerajaan dan terus entah sampai kapan atau bahkan tidak akan pernah selesai.

Meskipun tidak sama, namun pelemahan-pelemahan tersebut berakibat nyata dalam kehidupan dan membangun pola pikir yang seakan-akan menjadi hal biasa saja. Ibarat hidup di area sampah, karena sudah terbiasa menciumnya maka bau busuk yang diakibatkan tidak terasa lagi.

Dahulu, saat masih zamannya dunia verbal maka pelemahan-pelamahan tersebut melalui verbal. Misal, perempuan itu kerjanya macak, manak, dan masak. Tiga hal tersebut seolah-olah menjadi hakikat perempuan, bagi perempuan yang keluar dari 3M yang sudah ditentukan tersebut, akibatnya akan dicap tidak tahu diri, akan kualat, dan berbagai sanksi sosial lainnya.

Di dunia modern yang sudah meninggalkan verbal. Hal-hal yang berbau verbal dianggap kuno, seperti dongeng, mantra, petuah, dan lain sebagainya. Dunia modern beralih pada visual yang lebih konkrit, lebih realistis, dan mudah diidentifikasi.

Dunia patriarkhi juga mengalami perubahan dalam melanjutkan misinya mengikuti apa yang menjadi realitas kehidupan sekarang. Metode dan teknik yang digunakan dalam pelemahan-pelemahan semakin absurd. Semakin samar diidentifikasi, bahkan seolah-olah menjunjung padahal hakikatnya menginjak.

Pada cerita zaman dahulu perempuan menjadi selir, menjadi nyai, menjadi gundik, dan sebutan lainnya karena ketidakberdayaan mereka untuk menolak. Menolak sama halnya mati. Entah mati berpisahnya nyawa dan raga atau mati karena dipitus jalan rezekinya. Apa yang tidak bisa dilakukan oleh penguasa dahulu? Akhirnya, dengan berat hati menjadi seperti yang tidak diinginkan.

Dunia visual sekarang tidak kejam begitu, tapi justru menusuk dari belakang. Perempuan dikasih pekerjaan asalkan mengikuti aturan yang sudah ditentukan. Dalam dunia pemasaran, manivestasi perempuan hanya ditampilkan melalui betis, paha, lengan, dan busungan dada untuk dinikmati mata syahwat bagai makanan cepat saji.

Perempuan dikasih hak, namun tidak bisa memilih. Dalam film yang akhir-akhir ini ditonton sampai antri berjam-jam saat pembelian tiket dan membuat mereka sesenggukan selama film diputar. Saya mau bertanya, ada berapa perempuan yang berpendidikan tinggi, taat dalam menjalankan ritual keagamaan, tapi dibuat bertekuk lutut di depan laki-laki bagai kerbau yang dicucuk hidungnya?

Setelah nonton, dengan bangga bercerita ingin mencari dan mendapatkan calon seperti aktor yang pintar membuat banyak perempuan bertekuk lutut itu.

Saya sih manggut-manggut aja.

Surabaya, 31 Desember 2017 (Shubuh)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *