Parobah

Bahasa Indonesia akan terus berkembang sesuai kebutuhan zaman. Setiap saat ada kata baru yang diserap dari berbagai bahasa, tidak terkecuali bahasa daerah. Misalnya, kata unggah dan unduh. Dua kata ini berasal dari bahasa Jawa yang menjadi bagian penting dalam perkembangan zaman pada era digital ini. Keduanya menjadi kata yang sering digunakan dalam dunia internet.

Saat mengikuti seminar internasional, pembicara utama Prof. Dr. Bambang Yulianto, M.Pd memberikan wacana bagus terkait perkembangan bahasa Indonesia. Wacana itu disampaikan karena kata tersebut dirasa paling cocok untuk mewakili sebuah peristiwa, yaitu kata parobah. Kata parobah berasal dari bahasa Madura.

Bagi orang Madura, khususnya yang generasi melenial, kata parobah agaknya sudah asing karena jarang digunakan lagi dan kata tersebut juga tidak digunakan setiap hari. Parobah berasal dari kata robah yang bermakna wajah. Sinonim kata robah sendiri adalah muah. Persamaan keduanya sama-sama bermakna wajah dan perbedaan kedua kata itu pada saat penggunaannya serta tingkat kehalusan makna rasa.

Parobah seperti akar kata-nya robah yaitu memiliki makna yang berorientasi pada wajah. Kata parobah digunakan dalam konteks mempertanyakan sesaat bayi lahir untuk mengidentifikasi agar tidak langsung pada alat kelamin. Jadi, parobah memiliki makna rasa yang lebih layak dan lebih kompleks untuk mengidentifikasi keadaan bayi yang baru lahir.

Sebagian orang Madura beranggapan, bahkan ketika kata parobah diterjemahkan pada bahasa Indonesia dalam terjemahan online, memiliki makna jenis kelamin. Secara makna pintas memang tidak ada yang salah karena ketika kata parobah digunakan, misal “Hana, rembik. Parobah?” Jawaban yang akan didapat hanya dua, “lake’,” atau “bini’,”. Makna pintas dalam konteks seperti di atas seolah parobah memang memiliki makna jenis kelamin. Akibatnya, kebanyakan orang menangkap parobah memiliki makna jenis kelamin. Padahal, secara makna rasanya, parobah tidak sesempit itu.

Makna rasa parobah tetap berorientasi pada wajah, sama dengan akar kata-nya. Wajah merupakan simbol dari anggota badan. Simbol tersebut yang menanggung segala keadaan tubuh yang lain. Sehingga, sesaat setelah bayi lahir yang dipertanyakan pertama kali adalah robanah-wajahnya sebagai wakil dari anggota tubuh untuk diketahui keadaannya. Makna rasa parobah terdapat pada ruang kosong yang bisa diisi kondisi bayi secara keseluruhan. Keadaan bayi, kesehatan bayi, dan lain-lain termasuk jenis kelamin bayi.

Pengguna kata parobah memiliki rasa kepedulian terhadap keseluruhan kondisi bayi. Saat bertanya, “parobah?” Penanya secara otomatis ada rasa ingin tahu kesehatan, jenis kelamin, serta keadaan bayi secara keseluruhan. Berbeda dengan pertanyaan yang berorientasi pada jenis kelamin. Pertanyaan yang berorientasi pada jenis kelamin akan selesai ketika dijawab laki-laki atau perempuan. Sedangkan, penanya dengan menggunakan kata parobah ada jeda yang harus diisi untuk mengetahui lebih detail sesuai dengan keadaan bayi yang dipertanyakan.

Berkaitan dengan makna dari sebuah kata, tidak semua kata memiliki makna rasa. Tapi, setiap daerah memiliki perbendaharaan kata yang memiliki makna rasa yang berbeda-beda yang menunjukkan kedalaman perasaan kelompok dari penutur bahasa tersebut. Dalam bahasa Jawa ada bahasa unggah-ungguh yang terbagi menjadi tiga, yaitu ngoko, madya, dan krama. Dalam bahasa Madura ada istilah iyeh-enjek, engghi-bhunten.

Wacana kata parobah di atas disampaikan dan diajukan untuk menjadi salah satu kata dalam bahasa Indonesia dengan tujuan bahasa Indonesia memiliki perbendaharaan kata yang cocok makna kata-nya dengan peristiwa yang dimaksud.

Disamping tujuan penyerapan kata yang berasal dari bahasa Madura itu memang bagus, hal itu juga menjadi kritikan terhadap orang Madura sebagai pengguna aktif kata tersebut. Kritikan yang saya maksud adalah, tergerusnya kata parobah yang diakibatkan oleh sikap kurang rasa memiliki yang tinggi, khususnya bagi generasi milenial terhadap bahasa ibu. Padahal, kelestarian dan perkembangan (nasib) satu bahasa bergantung pada penerus pengguna aktif bahasa tersebut. Parobah mulai ditinggalkan sebagian penggunanya dan diganti dengan pertanyaan yang lebih banyak digunakan, yaitu “Hana, rembik. Lake’ apah bini’?”.

 

2 thoughts on “Parobah

  1. Eh baru tau, ternyata banyak hal yg harus dipelajari hihihihi
    Sering2 bikin Artikel yang berkaitan dengan bahasa daerah kak wkwkwk
    Cek ngerti 😂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *