Neuro-Semantik

Dua tahun lalu saat bulan puasa, suatu sore saya pergi ke Malang untuk menghadiri acara diskusi ringan sambil buka bersama di Kedai Kopi Tjangkir 13 yang digawangi oleh Aji Prasetyo. Motivasi saya jauh-jauh ke Malang naik motor saat puasa karena salah satu nara sumber diskusi tersebut adalah Candra Malik, satu-satunya tokoh yang mengaku bahwa dirinya adalah sufi. Lain itu, tidak ada hal yang membuat saya tertarik. Namun, saat sampai di tempat, saya dipertemukan dengan banyak tokoh-tokoh luar biasa yang aktif dalam bidang masing-masing. Pertama, Aji Prasetyo (komikus serta pendiri kedai Kopi Tjangkir 13 yang menjadi tempat berkumpulnya Gusdurian Malang, aktivis kampus, serta berbagai LSM). Kedua, Iksan Sekuter (penyanyi yang memutuskan untuk bermusik gerilya dan tidak terikat dengan dapur rekaman nasional). Ketiga, Kristanto Budiprabowo (pendeta) yang saat itu menjadi moderator diskusi.

Setelah diskusi dan buka bersama selesai, Candra Malik masih belum beranjak dan justru memperdalam kajian diskusinya dengan menyampaikan pertanyaan pancingan kepada beberapa orang peserta yang tinggal sedikit karena sudah kebanyakan pulang, “kopi yang kita minum ini mahal atau murah?”. Merespon pertanyaan itu, ada yang menjawab mahal dan ada yang menjawab murah. Alasan yang menjawab murah karena masih terjangkau oleh kantong mahasiswa dan yang menjawab mahal karena membandingkan dengan harga kopi yang lebih murah di warung-warung.

Candra Malik akhirnya memberikan jawaban bahwa “harga kopi ini sebenarnya murah atau malah terlalu murah karena membayangkan prosesnya. Kopi yang sedang kita nikmati ini mengalami proses panjang, mulai dari petani yang menanam, merawat, panen, lalu berpindah kepada pengepul, pabrik, kemudian ke penjual kopi (warung atau cafe), dan paling akhir berada di depan kita semua untuk disruput dan dinikmati. Kalau melihat prosesnya, berapa rupiah layaknya harga kopi ini? Tidak, rupiahpun tidak sanggup menghargai kenikmatan kopi ini. Hanya kebersyukuran kita kepada Allah Swt. yang pantas menjadi harga dari semua proses tersebut. Rupiah yang kita bayarkan itu hakikatnya bukan harga, hanya bagian kecil dari proses panjang tersebut.”

Realitas Hakikatnya Netral

Pertanyaan dan jawaban yang beragam di atas merupakan contoh dari neurosemantik. Neurosemantik menitikberatkan pada pemaknaan kita (manusia) terhadap peristiwa yang disajikan oleh kehidupan. Kehidupan sendiri hakikatnya berjalan netral apa adanya sesuai dengan sunnatullah atau hukum alam.

Kenetralan tersebut bisa kita amati dalam semua aspek kehidupan, baik berupa kata, simbol, ataupun peristiwa. Misalnya “Jangkrik”, bagi kebanyakan orang Indonesia kata tersebut hanya sebuah nama dari seekor binatang. Namun, berbeda bagi orang Jawa Timur khususnya Malang, Surabaya, dan sekitarnya. Kata tersebut bisa memiliki makna keakraban, sapaan, bahkan makian yang sangat keji. Bagi anak muda Surabaya misalnya, kata “Jangkrik” menjadi bumbu penyedap saat ngobrol dengan lawan bicara. Tapi, jangan sekali-kali mengatakan “Jangkrik” kepada orang tua, guru, atau orang yang dihormati karena hal itu akan dianggap tidak sopan. Padahal, kata “Jangkrik” saat diucapkan oleh orang Aceh di sana, tidak akan berakibat apa-apa karena memang realitas tersebut netral.

Realitas yang bersifat netral tersebut berbanding terbalik dengan persepsi. Realitas mutlak bersifat netral, tapi persepsi kembali pada kepentingan, keadaan emosi, serta latar belakang. Persepsi juga bergantung pada sudut pandang, jarak pandang, cara pandang, dan resolusi pandang.

Persepsi Menentukan Nasib

Persepsi bagi manusia bisa menjadi cermin evaluasi sekaligus musuh dalam selimut karena nasib manusia bergantung pada saat memberikan persepsi terhadap realitas kehidupan. Kita ambil contoh anak yang terlambat ke sekolah, di mana saat itu juga kebanyakan guru bertanya “kenapa kamu terlambat?”, jarang ada guru yang bertanya “apa yang menyebabkan kamu terlambat?”. Kedua pertanyaan tersebut memiliki dampak berbeda bagi anak dan sekaligus mencerminkan karakter dari seorang guru.

Pertanyaan pertama cenderung memojokkan anak karena ada kesalahan yang dihantamkan kepada mental anak. Pertanyaan kedua lebih fokus pada penyebab dari keterlambatan, sehingga ada peluang diskusi antara siswa dan guru untuk saling mengetahui apa yang terjadi sebelumnya sehingga datang ke sekolah tidak tepat waktu.

Pertama fokus pada “siapa” yang terlambat sehingga anak merasa terancam, kedua fokus pada “apa” yang menyebabkan sehingga ada ruang yang bisa dijadikan oleh guru dan siswa tersebut untuk duduk bersama membangun empati dan simpati.

Perbedaan fokus pada “siapa” dan “apa” memang penting untuk ditekankan pada diri sendiri seperti pesan kata bijak “lihatlah apa yang dibicarakan, jangan lihat siapa yang membicarakan”. Ketika berfokus pada “apa”, peluang untuk sama dan bersama akan menebal, namun sebaliknya ketika berfokus pada “siapa” maka persamaan akan semakin menipis.

 

*pernah dimuat di formasirua.or.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *