Hijrah ke Dalam Diri

Saya akan sedikit bercerita agar menjadi pengantar tulisan ini. Ada beberapa cerita yang sudah banyak dialami sebagian besar kita di masa kecil. Masih ingatkah kita waktu kecil dulu saat jatuh atau kepala kita terbentur ke tembok atau kalau sudah lupa, coba perhatikan orang tua yang menjaga anaknya. Orang tua kita secara langsung menggendong sambil berucap “cup cup cup, sayang” lalu memukul benda yang berbenturan dengan kita “sudah sayang, sudah ibu pukul”.

Saat sudah masuk sekolah dan kita tidak mengerjakan pekerjaan rumah (PR) guru-guru langsung memberikan kalimat “kamu ini”. Cerita-cerita ini memberikan pola pikir bahwa kesalahan berada dipihak lain. Saat kesalahan berada di pihak luar diri, maka diri secara otomatis menjadi pihak yang benar. Anak kecil tidak diberikan ruang dan waktu agar mengetahui dan menyadari peristiwa yang dialaminya. Ruang dan waktu bagi seorang anak agar mengetahui kesalahan yang dilakukan dengan cara orang tua memastikan kronologi kejadian. Hal itu tidak terjadi dan konsep mental yang sudah tertanam sejak kecil itu terus dibawa sampai dewasa.

Kejadian-kejadian seperti itu tidak hanya terjadi pada masa lalu. Tapi, terus bergulir bagai bola salju yang terus membesar. Untuk mengetahui dan menyadari di mana arah pikiran ini dalam menentukan kesalahan, bisa mengingat saat berkendara di jalan raya. Kondisi jalan raya yang terdiri dari berbagai jenis kendaraan dan latar belakang karakter sopir menjadi hal sederhana dalam kehidupan sehari-hari sebagai ajang testimoni dan tolok ukur pikiran. Mencari dan menyadari kesalahan yang dilakukan diri sendiri atau lebih banyak menyalahkan orang lain saat mendengar bunyi klakson dari kendaraan lain.

Kecelakaan di jalan raya bukan didominasi oleh kecelakaan fisik yang mengkibatkan jatuh, terluka, ataupun meninggal. Tapi, justru didominasi oleh kecelakaan pola pikir  tidak peka terhadap kesalahan sendiri. Di setiap lampu merah, bisa dijumpai kendaraan yang melebihi batas yang sudah ditentukan bagi pejalan kaki untuk menyeberang. Kendaraan saling menyalip dengan memotong jalan kendaraan lain. Sehingga terjadi penumpukan dan tidak beraturan saat lampu hijau mulai menyala. Bunyi klakson lebih berfungsi untuk menyalahkan orang lain daripada mengingatkan. Padahal, kalau diamati lebih jauh setelah melewati lampu merah, pengendara itu berjalan dengan laju yang relatif wajar. Malahan, terlihat santai tidak seperti sebelum di lampu merah yang terkesan berburu waktu.

Pada ranah politik kejadian seperti di atas bisa dilihat saat kampanye menjelang pemilihan umum, mulai tingkat daerah sampai di tingkat pusat. Program kerja yang direncanakan sudah tidak menjadi bahan utama dalam berkampanye, melainkan kejelekan-kejelekan calon lain yang terus dimunculkan ke permukaan. Sehingga, berakibat saling serang sesama calon dan pendukungnya. Banyak hal yang menjadi bahan saling serang antara satu calon dengan calon yang lain. Diantara banyak hal yang dibuat bahan saling serang, ras dan agama menjadi ladang subur bagi pihak yang memiliki kepentingan.

Kehidupan beragama seperti yang disebutkan di atas menjadi ladang subur diantara aspek kehidupan yang lain. Banyak kelompok ormas melakukan pembubaran sebuah acara sesama agama yang berbeda aliran, melarang acara yang berbeda sudut pandang, bahkan tidak jarang kita jumpai pembubaran dan pelarangan itu berujung dengan aksi anarkis yang tidak mencerminkan agama yang dianut. Tidak usah jauh-jauh ke luar sana. Kejadian seperti itu bisa kita jumpai dalam diri kita. Saat kita membaca kitab suci al-Quran dan menjumpai kata “Kafiruun”, “Dhalimuun”, “Musyrikuun”, hati kita mengarah ke dalam diri sendiri atau malah ke orang lain di luar sana. Pertanyaan sederhana semacam ini tidak membutuhkan jawaban, tapi butuh kejujuran pada diri sendiri.

Untuk mengatasi pola pikir yang sudah tertanam sejak kecil dan berakibat tidak baik sampai dewasa bahkan di usia tua, perlu adanya kesadaran. Ada tiga tahap menuju penyadaran menurut Joe Vitale dalam bukunya Zero Limits, antara lain sebagai berikut;

  1. Anda adalah korban. Kita semua sesungguhnya terlahir dengan perasaan tak berdaya. Kebanyakan dari kita tetap seperti itu. Kita berpikir dunia luar menguasai kita.

Sesaat ketika dipikir kembali, memang dalam menjalani kehidupan ini kita tidak memiliki kuasa apapun. Misalkan, menghendaki lahir dari keluarga kaya, di wilayah kebudayaan yang sedang mengalami puncak kejayaan, agama yang pemeluknya dominan, negara yang menguasai dunia, dan bahkan dilahirkan dengan pola pikir tertentu. Tapi, justru kita dilahirkan dalam keadaan tidak memiliki kehendak sekecil apapun. Dunia luarlah yang seolah mengatur kita. Dunia luar yang banyak berkontribusi mulai dari keluarga, masyarakat, bangsa, bahkan dunia.

Pada tahap awal, kesadaran ini muncul disetiap individu. Ada dua kemungkinan yang akan dihadapi setelah memiliki kesadaran ini yaitu, pertama, tetap berada pada posisi tidak berdaya menghadapi dunia luar. Kemungkinan pertama ini dihuni oleh orang-orang yang kehidupannya tidak stabil, mudah dipengaruhi oleh ajaran-ajaran yang menyimpang, mudah tergerus oleh arus, dan  berakibat munculnya penyakit hati; kedua, melanjutkan berkesadaran pada tahap selanjutnya.

  1. Anda memegang kendali. Pada suatu waktu saat melihat film atau membaca buku yang membuat anda tersadar akan kekuatan anda sendiri. Anda menyadari kekuatan untuk menetapkan niat.

Pada tahap kedua ini, kita mulai menyadari bahwa kita memiliki kuasa terhadap diri sendiri. Bisa memiliki kehendak yang harus direncanakan dan bersegera melakukannya. Berkesadaran pada tahap ini kita dituntut untuk bisa mengidentifikasi diri secara cermat.

Saat diri memegang kendali, yang menjadi pembelajaran berikutnya adalah menyadari rasa ke-AKU-an yang meninggi. Hanya dari tempat ketinggianlah benda bisa terjatuh. Kita akan terjerumus ke dalam jurang kenistaan apabila kendali yang berada dalam diri diakui sebagai hak milik, bukan pinjaman yang berasal dari Yang Maha Kuasa.

  1. Anda tersadar. Pada suatu titik setelah tahap kedua, anda mulai menyadari niat anda adalah batasan. Anda mulai melihat bahwa dengan seluruh kekuatan baru, anda masih tidak dapat mengendalikan segala sesuatu. Anda mulai menyadari ketika menyerah pada kekuatan yang lebih besar, keajaiban cenderung terjadi. Anda mulai mengikhlaskan dan percaya. Anda mulai mempraktikkan, setiap saat, kesadaran akan hubungan anda dengan Sang Ilahi.

Ditahap ketiga ini diri dituntut untuk melepas apa yang sudah kita usahakan. Mengikhlaskan segala upaya yang sudah sejak awal ditekankan. Ibarat memanah, tahap ini masuk pada pelepasan anak panah dari busurnya setelah tarikan yang pas dan pengaruh kecepatan angin sudah diperkirakan dengan cermat dengan tujuan agar anak panah mengenai objek yang dikehendaki.

Dalam proses pelapasan, rasa aku dalam diri sudah meniada dan yang ada hanya Yang Maha Berkehendak. Saat ke-aku-an dalam diri telah redup, maka keajaiban yang sering terjadi. Kekuatan besar yang akan datang berada diluar logika.

Kembali pada pembahasan di awal, maka muncullah pertanyaan-pertanyaan selanjutnya. Berada di manakah posisi kesadaran kita saat ini? Apakah akan terus menerus fokus pada kesalahan-kesalahan di luar diri? Apakah benar itu kesalahan orang lain, jangan-jangan semua itu kesalahan diri kita sendiri? Walaupun kita sepakat bahwa, semua orang memutuskan konsep menyalahkan orang lain itu memang benar adanya, hal itu akan kembali ke diri kita karena orang lain menurut mereka adalah diri kita.

Tiga tahap penyadaran ini menjadi salah satu cara yang relevan agar mengubah konsep menyalahkan orang lain yang sudah tertanam dalam bawah sadar kita menjadi jalan evaluasi diri untuk menjadi pribadi yang berkesadaran penuh.

Terakhir dikutipkan kembali pesan Joe Vitale dalam buku yang sama bahwa;

“Saya harus menambahkan bahwa penyadaran dapat terjadi setiap waktu. Saat baca buku atau saat jalan-jalan. Situasinya tidaklah penting. Keadaan batin anda-lah yang terpenting. Dan semua itu berawal serta berakhir dengan sebuah ungkapan yang indah:

“Saya mengasihimu.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *